Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Laba Bersih BRI Kuartal III 2023: Fakta dan Analisis

Cuklah.com - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI adalah salah satu bank terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang perbankan umum, mikro, ritel, dan korporasi. BRI juga memiliki anak usaha yang bergerak di bidang asuransi, multifinance, sekuritas, dan lain-lain.

Laba BRI Pada Kuartal III Tahun 2023

Laba Bersih BRI Kuartal III 2023

Pada kuartal III 2023, BRI berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 44,21 triliun, naik 12,47% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 39,31 triliun. Laba bersih ini merupakan yang tertinggi di antara bank-bank besar lainnya di Indonesia.

Lalu, apa saja faktor-faktor yang mendukung kinerja keuangan BRI pada kuartal III 2023? Bagaimana prospek BRI ke depan? Dan bagaimana strategi BRI untuk menghadapi tantangan dan peluang di industri perbankan? Simak ulasan lengkap dan mendalam kami di bawah ini.

Faktor-Faktor Pendukung Kinerja Keuangan BRI

Menurut Direktur Utama BRI Sunarso, ada beberapa faktor yang mendukung kinerja keuangan BRI pada kuartal III 2023, antara lain:

Penyaluran kredit yang tumbuh tinggi

BRI berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp 1.250,72 triliun sampai September 2023, tumbuh 12,53% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kredit ini tersebar di berbagai segmen, seperti mikro Rp 308,64 triliun, ritel Rp 445,16 triliun), korporasi Rp 416,34 triliun, dan lain-lain Rp 80,58 triliun. Kredit mikro BRI tumbuh 14,8% secara tahunan, tertinggi di antara bank-bank besar lainnya. Kredit ritel BRI tumbuh 13% secara tahunan, didorong oleh penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Kredit korporasi BRI tumbuh 10% secara tahunan, fokus pada sektor infrastruktur, energi baru terbarukan, dan digitalisasi.

Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang meningkat

BRI berhasil menghimpun DPK sebesar Rp 1.290,29 triliun sampai September 2023, naik 13,21% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. DPK ini terdiri dari giro Rp 217,97 triliun, tabungan Rp 603,17 triliun, dan deposito Rp 469,15 triliun. DPK giro BRI tumbuh 25% secara tahunan, tertinggi di antara bank-bank besar lainnya. DPK tabungan BRI tumbuh 15% secara tahunan, didukung oleh peningkatan jumlah nasabah dan transaksi digital melalui aplikasi BRImo. DPK deposito BRI tumbuh 4% secara tahunan, dengan rasio CASA (Current Account and Saving Account) mencapai 63,6%.

Kualitas kredit yang terjaga

BRI berhasil menjaga kualitas kreditnya dengan rasio Non Performing Loan (NPL) gross sebesar 2,48 persen dan NPL net sebesar 1,11% per September 2023. Rasio NPL gross BRI turun dari 2,64% pada periode yang sama tahun lalu, sementara rasio NPL net BRI naik dari 0,97% pada periode yang sama tahun lalu. Namun, rasio NPL net BRI masih di bawah batas maksimal yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar 5%. BRI juga melakukan peningkatan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sebesar Rp 23,9 triliun per September 2023, naik 26,8% secara tahunan.

Pendapatan jasa layanan (fee-based income) yang meningkat

BRI berhasil meningkatkan pendapatan jasa layanannya sebesar Rp 15,56 triliun sampai September 2023, naik 12,19% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan jasa layanan ini berasal dari berbagai sumber, seperti administrasi kredit Rp 4,84 triliun, transaksi digital Rp 3,28 triliun, asuransi Rp 2,38 triliun, dan lain-lain Rp 5,06 triliun. Pendapatan jasa layanan transaksi digital BRI tumbuh 66,87% secara tahunan, didorong oleh volume transaksi aplikasi BRImo yang mencapai Rp 2.984 triliun. Pendapatan jasa layanan asuransi BRI tumbuh 30,9% secara tahunan, didukung oleh peningkatan premi asuransi jiwa dan asuransi umum.

Prospek BRI ke Depan

Berdasarkan kinerja keuangan pada kuartal III 2023, BRI optimis dapat mencapai target-target yang telah ditetapkan untuk tahun ini. Beberapa target tersebut antara lain:

Menjaga pertumbuhan kredit di atas pertumbuhan industri. BRI menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 10%-12% pada tahun ini. Target ini lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan kredit industri perbankan sebesar 7%-9%. BRI berencana untuk terus menggenjot penyaluran kredit di segmen mikro dan ritel, serta memperluas penetrasi kredit di segmen korporasi.

Meningkatkan rasio CASA dan menurunkan biaya dana. BRI menargetkan rasio CASA sebesar 65% pada tahun ini. Target ini lebih tinggi dari realisasi rasio CASA pada kuartal III 2023 sebesar 63,6%. BRI berencana untuk terus mengoptimalkan penghimpunan dana murah melalui giro dan tabungan, serta mengurangi ketergantungan pada deposito. Hal ini diharapkan dapat menurunkan biaya dana BRI dan meningkatkan marjin bunga bersih (NIM).

Menekan rasio NPL net di bawah batas maksimal OJK. BRI menargetkan rasio NPL net sebesar 1%-1,5% pada tahun ini. Target ini masih di bawah batas maksimal OJK sebesar 5%. BRI berencana untuk terus melakukan restrukturisasi kredit yang terdampak pandemi Covid-19, serta melakukan penagihan dan penyelesaian kredit bermasalah.

Meningkatkan kontribusi pendapatan jasa layanan terhadap total pendapatan. BRI menargetkan pendapatan jasa layanan sebesar Rp 20 triliun pada tahun ini. Target ini lebih tinggi dari realisasi pendapatan jasa layanan pada kuartal III 2023 sebesar Rp 15,56 triliun. BRI berencana untuk terus mengembangkan bisnis-bisnis non-kredit, seperti asuransi, multifinance, sekuritas, dan lain-lain. BRI juga berencana untuk terus meningkatkan layanan digitalnya melalui aplikasi BRImo, yang menawarkan berbagai fitur dan kemudahan bagi nasabah, seperti pembayaran, transfer, pembelian, investasi, pinjaman, dan lain-lain. BRI juga berkolaborasi dengan berbagai mitra strategis, seperti Gojek, Tokopedia, Shopee, dan lain-lain, untuk memperluas jangkauan dan aksesibilitas layanan digitalnya.

Strategi BRI untuk Menghadapi Tantangan dan Peluang di Industri Perbankan

Industri perbankan di Indonesia menghadapi berbagai tantangan dan peluang di tengah kondisi ekonomi dan sosial yang dinamis. Beberapa tantangan dan peluang tersebut antara lain:

Pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 telah berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang mengalami kontraksi sebesar 2,07% pada tahun 2022. Namun, pemerintah telah mengeluarkan berbagai stimulus fiskal dan moneter untuk mendorong pemulihan ekonomi, seperti program PEN, relaksasi kredit, insentif pajak, dan lain-lain. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan kredit dan aktivitas ekonomi di tahun 2023. BRI sebagai bank yang memiliki pangsa pasar terbesar di Indonesia memiliki peluang untuk mendukung pemulihan ekonomi dengan menyalurkan kredit produktif kepada sektor-sektor strategis, seperti UMKM, infrastruktur, energi baru terbarukan, dan digitalisasi.

Persaingan dengan bank-bank lain dan fintech. Industri perbankan di Indonesia semakin kompetitif dengan adanya bank-bank besar lainnya yang memiliki modal dan jaringan yang kuat, seperti Bank Mandiri, Bank BCA, Bank BNI, dan lain-lain. Selain itu, industri perbankan juga menghadapi persaingan dengan fintech, yang menawarkan layanan keuangan yang lebih cepat, murah, dan mudah melalui platform digital. BRI sebagai bank yang memiliki visi menjadi "The Most Valuable Bank in South East Asia" harus mampu bersaing dengan bank-bank lain dan fintech dengan terus meningkatkan kualitas produk dan layanannya, serta melakukan inovasi dan transformasi digital.

Perubahan perilaku dan preferensi nasabah. Nasabah perbankan di Indonesia semakin menginginkan layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup mereka. Nasabah juga semakin beralih ke layanan digital yang lebih praktis dan efisien dibandingkan layanan konvensional. BRI sebagai bank yang memiliki misi menjadi "The Most Customer Centric Bank" harus mampu memenuhi harapan dan kepuasan nasabah dengan menyediakan layanan keuangan yang relevan dan berkualitas tinggi, serta memperkuat hubungan dengan nasabah melalui personalisasi dan loyalitas.

Untuk menghadapi tantangan dan peluang di industri perbankan tersebut, BRI telah menetapkan beberapa strategi utama, antara lain:

Memperkuat bisnis inti (core business). BRI akan terus memfokuskan bisnisnya pada segmen mikro dan ritel, yang merupakan segmen unggulan BRI sejak lama. BRI akan terus mempertahankan posisi sebagai bank mikro terbesar di Indonesia dengan menyalurkan kredit mikro melalui program KUR dan BRIGuna Mikro. BRI juga akan terus meningkatkan bisnis ritelnya dengan menyalurkan kredit konsumsi melalui program PEN dan BRIGuna Konsumsi. Selain itu, BRI juga akan memperluas bisnis korporasinya dengan menyalurkan kredit kepada sektor-sektor strategis, seperti infrastruktur, energi baru terbarukan, dan digitalisasi.

Memperluas sumber pendapatan (revenue diversification). BRI akan terus mengembangkan bisnis-bisnis non-kredit yang dapat memberikan pendapatan jasa layanan (fee-based income) yang tinggi dan stabil. BRI akan terus mengoptimalkan bisnis asuransinya melalui anak usaha PT Asuransi BRI Life dan PT Asuransi Umum BRI. BRI juga akan terus mengembangkan bisnis multifinancenya melalui anak usaha PT BRI Multifinance Indonesia. Selain itu, BRI juga akan terus mengembangkan bisnis sekuritasnya melalui anak usaha PT BRI Danareksa Sekuritas.

Mempercepat transformasi digital (digital acceleration). BRI akan terus meningkatkan layanan digitalnya melalui aplikasi BRImo, yang merupakan super app yang menawarkan berbagai fitur dan kemudahan bagi nasabah, seperti pembayaran, transfer, pembelian, investasi, pinjaman, dan lain-lain. BRI juga akan terus berkolaborasi dengan berbagai mitra strategis, seperti Gojek, Tokopedia, Shopee, dan lain-lain, untuk memperluas jangkauan dan aksesibilitas layanan digitalnya. Selain itu, BRI juga akan terus melakukan digitalisasi internalnya melalui penerapan teknologi-teknologi canggih, seperti big data, artificial intelligence, cloud computing, dan lain-lain.

Kesimpulan

BRI adalah salah satu bank terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang perbankan umum, mikro, ritel, dan korporasi. BRI juga memiliki anak usaha yang bergerak di bidang asuransi, multifinance, sekuritas, dan lain-lain.

Pada kuartal III 2023, BRI berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 44,21 triliun, naik 12,47% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 39,31 triliun. Laba bersih ini merupakan yang tertinggi di antara bank-bank besar lainnya di Indonesia.

Faktor-faktor yang mendukung kinerja keuangan BRI pada kuartal III 2023 antara lain penyaluran kredit yang tumbuh tinggi, penghimpunan dana pihak ketiga yang meningkat, kualitas kredit yang terjaga, dan pendapatan jasa layanan yang meningkat.

Prospek BRI ke depan cukup optimis dengan adanya pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19. BRI menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 10%-12% pada tahun ini. BRI juga menargetkan rasio CASA sebesar 65% pada tahun ini. BRI juga menargetkan rasio NPL net sebesar 1%-1,5% pada tahun ini. BRI juga menargetkan pendapatan jasa layanan sebesar Rp 20 triliun pada tahun ini.

Strategi BRI untuk menghadapi tantangan dan peluang di industri perbankan antara lain memperkuat bisnis inti (core business), memperluas sumber pendapatan (revenue diversification), dan mempercepat transformasi digital (digital acceleration).

Demikian artikel kami tentang laba bersih bri kuartal III 2023. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang kinerja keuangan dan strategi bisnis BRI. Jika Anda memiliki pertanyaan atau saran, silakan tinggalkan komentar di bawah ini.

Posting Komentar untuk "Laba Bersih BRI Kuartal III 2023: Fakta dan Analisis"